Alhamdulillah yang ditunggu-tunggu akhirnya lahir juga. Our baby boy R. Daanish Ahmad Faizi Permadi lahir dengan proses normal pada hari Selasa 10 Agustus 2010, pukul 10.30 dengan berat 3.5 kg dan panjang 51 cm. Terima kasih buat doa, dukungan dan ucapan selamatnya (Bunda Indira & Abi Hedi)
Posted in My Family | Tagged baby, baby boy, lahiran, newborn, R. Daanish Ahmad Faizi Permadi | 60 Comments »
Pernah dengan panganan khas Bandung yang namanya COLENAK? Khususnya buat penggemar makanan tradisional manis, kalau baru dengar namanya tapi belum pernah mencicipi…anda rugi dehhhh. Karena sesuai dengan namanya COLENAK – dicocol enak…makanan ini memang enak
. Saya bukan penggemar makanan manis, tapi untuk yang satu ini…love it…love it…love it
.
Sebelumnya saya hanya mengenal nama saja, cuma penampakan dan rasa Colenak sendiri saya belum tahu. Sampai beberapa minggu yang lalu, abi (this is how I call my hubby
) membawakan saya sebungkus colenak sepulang dari mengajar (ahhh…suamiku tau aja istrinya demen makan…hahahaha). Satu suapan saja sudah membuat saya ketagihan, rasa peuyeumnya yang dibakar pas banget dikombinasi dengan saus gula merah rasa durian. Wahhh…MANTAPSSSS!!! Begitu masuk mulut, peyeum ini terasa lembut dan sensasi manis gula cair campur kelapa dan rasa durian bikin mata merem melek menikmatinya
. Peyeumnya tidak terlalu manis, jadi nggak terasa eneg. Kebetulan colenak yang dibeli abi adalah salah satu yang terkenal di Bandung sejak tahun 1930an, namanya Colenak Murdi Putra. Lokasinya di Jalan Ahmad Yani No 733 Cicadas bandung sekitar 200 meter dari Terminal Bis Cicaheum (kebetulan ini tak jauh dari rumah saya).
Ini dia foto colenak Murdi Putra sebelum tuntas masuk perut saya
Posted in Wisata Kuliner | Tagged Colenak, colenak mardi putra, kuliner bandung, Makanan khas bandung | 31 Comments »
Important Note:
Postingan ini dibuat semata-mata karena kami (saya dan suami) tidak berhasil juga menghubungi orang yang dimaksud dalam postingan ini. Menulis di blog adalah bagian dari ikhtiar kami agar urusan diantara kamis segera menemukan kejelasan dan penyelesaian. Tidak ada maksud untuk mencemarkan nama baik atau sejenisnya. Terima Kasih
Membaca judulnya mungkin ada yang mengira postingan ini berkaitan dengan kerohanian
. Tidak salah juga sih, karena memang tujuannya agar tercapai ketengangan lahir dan batin (alias rohani). To the point aja yah, melalui postingan ini saya dan suami ingin meminta bantuan teman-teman sekalian seandainya memang mengenal atau mengetahui sosok yang akan saya jelaskan berikut ini. Informasi yang kami miliki sangat sedikit, karena itulah kamipun kesulitan untuk menemukannya. Singkat cerita kami mencari seseorang bernama RAHMAT yang nama lengkapnya kami tidak tahu. RAHMAT ini pernah tinggal di Bandung, di daerah CIGADUNG, di sebuah rumah dengan 1 rumah inti dan 3 paviliun yang dulunya ditempati RAHMAT dan dua saudaranya ketika sudah menikah namun belum memiliki rumah sendiri. Setelah berkeluarga RAHMAT tinggal di Jakarta, di daerah BINTARO. Ibunda dari RAHMAT meninggal dunia kira-kira bulan Oktober 2009. Sejatinya urusan kami adalah dengan alm.ibunda RAHMAT, namun sejak beliau meninggal urusan ini dilimpahkan pada RAHMAT (note: RAHMAT lah yang menghubungi kami setelah ibundanya meninggal dunia). Awalnya kami menganggap RAHMAT mempunyai itikad yang sangat baik karena telah menghubungi kami dan berjanji menyelesaikan urusan yang ada diantara kami. Sayangnya itu tidak berlangsung lama, RAHMAT hanya memberi janji dan tiba-tiba nomor telephone yang biasa dipakai berkomunikasi tidak lagi aktif. Kami akan sangat menghargai jika saudara RAHMAT jujur pada kami seandainya tak mampu atau belum bisa menyelesaikan urusan yang ada diantara kita. Insya Allah semuanya bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Jika siapapun yang mengenal RAHMAT seperti yang saya maksud diatas, atau bahkan saudara RAHMAT sendiri membaca tulisan ini, mohon menghubungi saya di indira_80_2003@yahoo.com atau suami saya di 081221249358. Kami tunggu itikad baiknya. Terima kasih
Posted in Berbagi Cerita | Tagged bintaro, cigadung, mencari rahmat, rahmat | 14 Comments »
Sejak pengumuman kelulusan Ujian Nasional tingkat SMU, acara televise dipenuhi segala cerita terkait hal tersebut. Mulai dari sorak sorai, corat coret seragam sampai konvoi kendaraan bermotor siswa yang lulus, sampai jeritan hysteria, tangisan, kesurupan dan kemarahan siswa yang tidak lulus. Semua mewarnai kisah Ujian Nasional di negeri kita tercinta ini.
Semalam salah seorang siswa kursus saya yang Selasa (4 April 2010) nanti akan menghadapi Ujian Nasional tingkat SD bercerita bahwa mulai hari Senin guru sekolah meminta semua siswa mengikuti les intensif untuk UN sampai nanti UN berakhir. Jujur saya terkejut, kenapa les intensif diadakan saat UN berlangsung. Idealnya semua itu dilaksanakan sebelum ujian diadakan, dan dihentikan setidaknya beberapa hari menjelang ujian. Idealnya (menurut saya loh), mendekati UN, siswa harusnya ditenangkan…berada dalam keadaan rileks sehingga menghindari rasa grogi, tegang atau yang lebih parah lagi rasa takut. Porsi belajar sebaiknya dikurangi, jadi sifatnya hanya pengulangan atau pemantapan. Jadi saat UN tiba, bukan hanya fisik tetapi juga psikis mereka siap untuk mengikutinya. Peran orang tua juga sangat penting dalam mendukung kesiapan siswa mengikuti UN. Jangan sampai mengancam atau menakuti-nakuti seperti “Awas kalau nggak lulus UN, mama/papa kurung di rumah sampai lulus nanti” atau “Kalau nggak lulus UN kamu nikah aja ama juragan kambing kampong sebelah. Rugi disekolahin mahal-mahal tapi nggak lulus”. INGAT! Belajar tak pernah rugi dan kenali putra putrid anda sebelum menghakimi mereka.
Kembali pada soal pengumuman kelulusan. Ada siswa sebuah sekolah yang tidak lulus dan kemudian meluapkan kekesalan mereka dengan merusak sekolah. Tapi anehnya, sebelum aksi tersebut…mereka sudah sempat corat coret seragam sekolah. Lah??? Aneh aja menurut saya, kan sedih kalau ga lulus, ehhh…sempat-sempatnya corat coret seragam dulu sebelum ngamuk-ngamuk. Saya Tanya ya adik-adik…
Kalau nggak lulus UN nih…
Apa ketidaklulusan itu salahnya gedung sekolah ?
Tau nggak kalau gedung itu dibangun dan dirawat dari uang kalian juga ?
Apa kalian berhak berbuat onar ?
Apa kalian otomatis punya hak untuk menghancurkan sekolah?
Apa kalian berhak mencaci para guru?
Apa dunia akan berhenti berputar?
Apa hidup akan berakhir?
Adik-adik sekalian, life must go on. Daripada kalian melakukan hal-hal yang akan kalian sesali di kemudian hari, lebih baik bercermin pada kesuksesan yang tertunda ini. Menyalahkan orang lain memang mudah, tapi tidak akan menyelesaikan masalah. Masih ada kesempatan di ujian ulang. Persiapkan diri dengan lebih baik dan jauhkan pikiran kalian dari ketakutan akan Ujian Nasional. Katakan AKU BISA, Insya Allah kalian bisa, coz what you think is what you become
Posted in Berbagi Cerita | Tagged Tidak lulus UN, Ujian Nasional, UN | 25 Comments »
Disclaimer:
Tulisan ini dibuat untuk berbagi dan pembelajaran bersama, tidak bermaksud memojokkan kaum pria atau para suami. Kebetulan saja contoh kejadian didapat dari curhat para istri. Let’s see the brighter side of the writing
Istri : bisa tolong pindahin meja ini, hun ?
Suami : tar
Istri : kalau pakaian sudah kotor dan mau dicuci bisa nggak ditaruh di ember cucian, jangan digantung aja di kamar
Suami : O…iya…lupa…maaf…taruhin dunk say
Istri : Baju ini masih mau dipakai lagi atau dicuci ? Kok ditaruh di lantai ?
Suami : Mau dipakai lagi (posisi tidak berubah, masih manteng depan laptop)
Istri : katanya mau ke bengkel ? kok masih internetan ajah
Suami : tar
Istri : kalau selesai baca Koran bisa ga dilipat trus ditaruh yang rapi, jangan berserakan di lantai
Suami : ya maaf….lipatin dunk (wajah tidak berpaling dari monitor laptop)
Sepuluh kali diingatkan, dan sepuluh kali pula kejadian diatas berulang. Mungkin kejadian-kejadian di atas sering dianggap hal sepele, namun jika dibiarkan akan menjadi pemicu masalah dalam hubungan suami istri. Tak jarang alasan yang disampaikan adalah “Aku ya memang begini sejak dulu” atau “Lupa…” atau “Merubah kebiasaan kan ga bisa sekejap” atau yang lebih parah lagi “Beresin aja bisa kan, ga usah ngomel-ngomel” (padahal sang istri sudah mengingatkan dari nada paling halus sampai nada 10 oktaf saking seringnya).
Apakah semua hal diatas adalah incurable bad habits (kebiasaan buruk yg tidak tersembuhkan) atau memang si empunya being ignorant (tidak peduli) dengan kebiasaannya. Saya selalu percaya bahwa perubahan itu mungkin adanya sepanjang ada kemauan, dan dukungan positif dari sekitar akan jadi factor pendukung…ingat ya hanya factor pendukung, karena inti dari sebuah perubahan adalah dari diri sendiri. Saat menikah, maka kita seperti berlayar dengan perahu. Nahkoda dan awaknya harus kompak, jangan sampai yang satu mendayung ke utara, satunya lagi mendayung ke selatan. Adaptasi dan kompromi adalah wajib hukumnya. Satu hal lagi yang penting adalah mutual understanding.
If you do care about your relationship and your partner, do consider their advice or thoughts. Kebiasaan buruk yang terbawa sejak sebelum menikah, pasti bisa diubah walaupun pastinya membutuhkan waktu. Determination, understanding plus love will help you go through the process
.
Posted in Berbagi Cerita | Tagged life after marriage, marriage life, menikah, suami istri | 19 Comments »
Pertama kali tiba di Bandung suami saya sudah mengumbar cerita betapa almarhumah mama mertua sangat menggemari roti bebas pengawet yang dijual di Jl. Oto Iskandardinata (Otista) Bandung. Baru sekitar 2 minggu yang lalu saya berkesempatan mencicipinya dan ternyata tidak salah alm.mama menyukainya
. Selain harganya yang cukup terjangkau, rasanya juga enak. Roti ini tidak terlihat mengembang namun bila digigit ternyata ‘kempes’ seperti roti yang kebanyakan dijual. Teksturnya lembut, tapi padat…jadi sepotong tipis saja sudah cukup mengenyangkan tapi tidak membuat eneg. Satu roti seukuran 2 telapak tangan Indira (hahaha…ukuran yang nggak jelas
) dibandrol dengan harga Rp 7,000 saja, jauh lebih murah dari roti yang dijual keliling kompleks (untuk ukuran yang sama). Suka ukurang yang lebih kecil? ada juga roti satuan dengan berbagai rasa seperti keju, coklat, sosis, kacang dan pisang coklat dengan harga Rp 2,700. Nahhh…kemarin saya berkesempatan mencicipi roti sosisnya dan merasa bahwa “INI BARU ROTI SOSIS”
. Mengapa demikian? karena sosisnnya bukan hanya asesoris biar terlihat ada sosisnya, sebuah sosis utuh bisa ditemukan dalam roti ini…nyam…nyam…nikmat sekali
.
Mungkin buat sebagian orang kemasan roti SIDODADI ini terlalu biasa. Warnanya putih dan tidak transparan seperti kebanyakan kemasan roti. O ya, ada satu lagi yang unik dari kemasannya…ada pesan layanan masyarakat yang isinya:
“JADILAH PESERTA KB LESTARI”
“BUANGLAH SAMPAH PADA TEMPATNYA”
Buat para penggemar roti, silahkan mencoba roti SIDODADI yang bisa dibeli di Jl Otista 255, Bandung. Harga dan terjangkau dan bebas bahan pengawet. O ya…cicik pemilik toko ini juga baik dan ramah. Target saya berikutnya ada mencicipi roti 5 rasa yang setiap kali mau beli pasti sudah habis terjual
. Selamat Mencoba!
NB:
Ini bukan postingan promosi, dan review positif ini juga tidak dipengaruhi 2 potong roti sosis yang diberikan cuma-cuma (alias gratis) oleh cicik pemilik toko
Posted in Bagi Info | Tagged kuliner bandung, Roti, Roti bebas bahan pengawet, Roti SIDODADI | 66 Comments »







