Terima kasih buat Aryanty dan suami yang sudah mengijinkan saya meng-upload tulisan ini di blog saya. Hatur nuhun pisan nyak…semoga bermanfaat buat yang lain. Tulisan ini di upload dari dan juga bisa dibaca di:

http://nenengbatman.multiply.com/tag/pernikahan

 

FIQH NIKAH

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan yang pernah disampaikan sebelumnya. Ya, ini untuk menjawab permintaan Mel-sayank yang meminta saya menulis tentang fiqh nikah, yang juga berisi doa-doa, untuk disampaikan kembali pada temannya—kalau tidak salah namanya Septi—yang akan menikah beberapa hari lagi. (Kupikir-pikir istriku ini emang hebat banget ya, baru satu semester menikah sudah jadi konsutan pernikahan. Akh, saya jadi makin sayang padanya). Baiklah, sebagai suaminya, saya tak boleh kalah hebat dari dia. Akan saya buktikan kehebatan saya melalui tulisan Fiqh Nikah yang dia perlukan. Asal tahu saja, dibelakang seorang perempuan yang hebat, pasti ada lelaki hebat yang mendukungnya. (Ungkapan yang aneh, hehe).

Loh, kok jadi ngelantur sih. Kapan mulainya ini teh? Hihi, terus terang aja deh sekarang mah. Sebenarnya saya agak kesulitan menulis hal-hal terkait fiqh nikah. Keterbatasan ilmu, kekurangmampuan merangkai kata dalam tulisan, kemalasan yang masih sering diperturutkan, terintegrasi menjadi satu hingga permintaan dari Sabtu (10/2) lalu, hingga Kamis (14/2) ini belum juga bisa rampung ditunaikan.

Karenanya dalam kesempatan yang baik ini saya ingin menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada Aryanty Risnadewi, sang Dewicinta yang selalu mengisi ruang rindu di hati, atas segala kekurangan yang ada pada diri ini. Dewi, kaulah hidupku, aku cinta padamu sampai mati. (Inspired: Once) ;p

Definisi Nikah                       

Secara etimologi nikah/zawaj dalam bahasa Arab artinya adalah mendekap atau berkumpul. Sedangkan secara terminologi nikah adalah akad/kesepakatan yang ditentukan oleh syara’ yang bertujuan agar seorang laki-laki memiliki keleluasaan untuk bersenang-senang dengan seorang wanita, dan menghalalkan seorang wanita untuk bersenang-senang dengan seorang laki-laki.

Hukum Nikah

Nikah merupakan amalan yang disyariatkan. Hal ini didasarkan pada beberapa ayat Al-Qur`an juga hadits Rasulullah SAW. Beberapa ayat Al-Qur`an tersebut antara lain 4:3, 24:32, hadits Muttafaq ‘alaih tentang ba`ah, juga hadits riwayat Ahmad dan Ibnu Hibban berikut: “Menikahlah dengan wanita yang penuh cinta dan yang banyak melahirkan keturunan. Karena sesungguhnya aku merasa bangga dengan banyaknya jumlah kalian di antara para nabi pada hari kiamat kelak.” Berdasarkan kondisi-kondisi tertentu hukum nikah bisa wajib, sunnah, haram, makruh dan mubah. Ga usah dijelaskan lebih detail kan? Pasti sudah paham deh…

Syarat Sah Nikah

1.       Bukan wanita “mahram”

2.       Tidak menggunakan shigot ijab dan qabul sementara

3.       Dua orang saksi

4.       Saling ridha tidak ada paksaan

5.       Kedua mempelai dan wali tidak dalam keadaan haji dan umrah

6.       Mahar

7.       Mempelai laki-laki dan saksi tidak bersepakat untuk merahasiakan pernikahan

8.       Kondisi kedua mempelai dalam keadaan sehat lahir batin

9.       Wali

Proses Pernikahan

Proses pernikahan terbagi atas 3, yakni pranikah, pernikahan dan pascanikah.

1.       Pranikah

Ada beberapa hal yang mesti diperhatikan untuk dilakukan sebelum proses pernikahan dilakukan, antara lain: mengenal dan mengetahui calon (ta’aruf), lalu beristikharah kepada Allah untuk memperoleh kemantapan hati, musyawarah dengan keluarga, khitbah/meminang, juga melengkapi perlengkapan administrasi sesuai dengan peraturan yang berlaku.

2.       Pernikahan

Prinsip pokok dalam Islam tentang pernikahan adalah “permudah nikah, persulit cerai.” Pernikahan juga hendaknya dipublikasikan agar masyarakat sekitar mengetahui bahwa kita sudah menikah. Proses pernikahan sendiri dilakukan dengan adanya khutbah nikah, lalu akad nikah (menghadirkan calon suami, calon istri, wali pihak calon istri, dua saksi, ijab qabul), lalu dilanjutkan dengan walimah (pesta syukuran) dengan catatan harus memperhatikan kaidah-kaidah Islam, tidak mubadzir, tidak isrof, tidak terlalu mewah, namun juga tidak kikir).

3.       Pascanikah

Inilah kehidupan baru yang didambakan setiap lajang. Kebersamaan hidup suami-istri, dengan saling menghargai, menyayangi dan mencintai. Beberapa hal terkait dengan hak-hak suami-istri akan diuraikan pada bagian berikutnya.

Hak-hak Istri

Mari kita perhatikan beberapa dalil yang terkait dengan hak-hak istri.

Dan bergaullah dengan mereka (para istri) dengan cara yang bijaksana (bil ma’ruf). Kemudian jika kamu tidak menyukai (sifat) mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa: 19)

Wahai manusia, takutlah kepada Allah akan urusan wanita. Sesungguhnya kamu telah mengambil mereka sebagai istri dengan amanat Allah. Kami halalkan kehormatan mereka dengan kalimah Allah. Sesungguhnya kamu mempunyai hak atas istrimu, dan istrimu pun memiliki hak atasmu. Ketahuilah aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik terhadap istri kalian. Mereka adalah penolong kalian. Mereka tidak memilih apa-apa untuk dirinya, dan kamu pun tidak memilih apa-apa dari diri mereka selain itu. Jika mereka patuh kepadamu, janganlah kamu berbuat aniaya terhadap mereka.” (HR. Muslim dan Tirmidzi)

1.       Membayar maharnya secara sempurna

Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.” (QS. An-Nisa: 4)

2.       Memberi nafkah

Tidaklah kamu menginfakkan nafkah dengan mengharap keridhaan Allah kecuali pasti akan dibalas atasnya, termasuk apa yang kamu masukkan ke dalam perut istrimu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

3.       Memperlakukannya dengan baik

Sebaik-baik orang di antara kalian adalah mereka yang bersikap baik terhadap istri-istrinya. Dan aku adalah orang terbaik di antara kalian terhadap keluargaku.” (Al-Hadits)

4.       Melupakan kekurangannya

Janganlah seorang (suami) mukmin memarahi seorang (istri) mukminah. Jika tidak suka dengan salah satu perilakunya, ia dapat menerima perilaku yang lainnya.” (HR. Muslim)

5.       Memberikan pendidikan dan pengajaran

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah kamu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”(QS. At-Tahrim: 6)

6.       Membantu istri dalam tugas-tugas rumah

Rasulullah SAW telah membantu pekerjaan istrinya, menyapu rumah, menambal pakaian, menjahit sandal, memerah kambingnya. Maka apabila tiba waktu shalat ia pergi melakukannya.”(HR. Bukhari)

Hak-hak Suami

Dari Aisyah RA, ia berkata, “saya bertanya kepada Rasulullah SAW, ‘siapa yang paling berhak atas wanita?’ Beliau menjawab, ‘suaminya.’ Saya bertanya lagi, ‘siapa yang paling berhak atas lelaki?’ Jawab Nabi, ‘ibunya.’” (HR. Al-Bazzar dan Al-Hakim)

Dari Ibnu Abbas RA, ia berkata, “seorang wanita menghadap Rasulullah SAW lalu berkata, ‘wahai Rasulullah, aku sebagai utusan wanita menghadap engkau. Hukum jihad telah diwajibkan atas lelaki. Bila mereka luka, mendapat pahala, bila mereka mati terbunuh, mereka hidup di sisi Tuhannya dan mereka diberi rizki. Lalu kami golongan wanita melayani mereka (para suami), bagaimana keadaan kami? Dengan tenang dan tegas Rasulullah menjawab, ‘sampaikan kepada setiap wanita yang kamu temui, bahkan ketaatan mereka kepada suami serta pengakuan hak-haknya menyerupai nilai jihad itu. Sayang, sedikit sekali di antara kalian yang mengerjakannya.” (HR. Bukhari-Muslim)

1.       Mentaati suami

Apabila seorang wanita mengerjakan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya, menjaga kehormatannya dan taat kepada suaminya, niscaya ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang dia kehendaki.” (HR. Ahmad)

2.       Menjaga kehormatan diri dan harta

“…(yaitu) wanita shalehah, jika dilihat (suaminya) ia menyenangkan, jika diperintahkan ia menaatinya dan jika (suaminya) pergi, ia akan menjaga dirinya dan harta suaminya.” (HR. Abu Daud dan An-Nasa’i)

3.       Banyak bersyukur dan tidak banyak menuntut suami

“Sesungguhnya aku diperlihatkan neraka dan melihat kebanyakan penghuni neraka adalah wanita.” Sahabat bertanya, “sebab apa yang menjadikan mereka paling banya menghuni neraka?” Rasulullah menjawab, “sebab kufur.” Sahabat bertanya, “apakah dengan sebab kufur kepada Allah?” Rasulullah menjawab, “tidak. Mereka kufur kepada suaminya dan mereka kufur kepada kebaikan. Seandainya seorang suami dari kalian berbuat kebaikan kepada istrinya selama setahun, kemudian istrinya melihat sesuatu yang jelek pada suaminya, maka dia mengatakan ‘aku tidak pernah melihat kebaikan padamu.’” (Al-Hadits)

 

Begitulah. Suami dan istri memang punya hak. Hak satu pihak yang harus ditunaikan oleh pihak yang lainnya. Namun inti dari semua itu adalah kerja sama. Ya, kerja sama yang baik antara suami istri-lah yang akan melahirkan suasana bahagia berumah tangga. Mari perhatikan kembali beberapa dalil berikut:

Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan janganlah tolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Maidah: 2)

Perhatikan pula keindahan makna hadits di bawah ini:

Allah mengasihi suami yang bangun di malam hari dan melakukan shalat, kemudian ia membangunkan istrinya. Ketika istrinya menolak ia percikkan air ke wajah istrinya. Allah mengasihi istri yang bangun di malam hari dan melakukan shalat, kemudian ia membangunkan suaminya. Ketika suaminya menolak ia percikkan air ke wajah suaminya.” (HR. Abu Daud)

Akh, alangkah indahnya jika sepasang suami-istri mampu bekerja sama dalam ibadah seperti terungkap di hadits di atas. Dan memang, kerja sama ini mesti terus dipelihara dalam mendidik anak-anak yang kelak akan lahir, juga dalam mengatur rumah tangga sehari-hari.

Doakan saja semoga saya dan istri bisa melakukan kerja sama seperti itu. (Oh, sayang, Aa kangen… kapan kita bisa ‘bekerja-sama’ lagi? ;p)

 

Doa-doa

Di bagian ini saya ingin menuliskan beberapa doa yang dianjurkan dibaca oleh pasangan suami istri. Saya ingin kutipkan tulisan Salim A. Fillah di buku merahnya yang menjadi bagian sejarah cinta saya dengan Mel-sayank:

Pandanglah ia (pasangan) dengan kesyukuran kepada Allah, tataplah matanya atau wajahnya yang menunduk malu. Ucapkanlah doa, saat pandangan mata kita bertemu dengan bola cahaya berkilauan itu, agar ia mendengar. Agar ia turut melafazh permohonan: Bārokallōhu likulli wāhidin minnā fī sşōohibih. (Semoga Allah memberkahi masing-masing di antara kita terhadap teman hidupnya).

Sesudah itu mendekatlah. Duduklah disampingnya dan bersiaplah memberikan sentuhan yang amat bermakna. Sentuhan pada ubun-ubun yang diiringi doa memohon kebaikan kepada Allah yang telah menciptakan Anda berdua, seperti dituntunkan Rasulullah: “Apabila salah seorang dari kalian menikahi seorang perempuan, maka hendaklah ia memegang ubun-ubunnya, membaca basmalah dan memanjatkan doa memohon barakah, serta mengucapkan doa: Allōhumma innī as-aluka min khoirihā wa khoiri mā jabaltahā ‘alaihi wa a’ūżubika min syarrihā wa syarri mā jabaltahā ‘alaih. (Ya Allah sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan wataknya dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan dan kejelekan wataknya.” (HR. Bukhari).

Lalu shalat berjamaahlah. Berdua saja. Dua rakaat. Lalu berdoalah untuk keberkahan keluarga yang baru saja terbentuk.

Ini hal terpenting yang tidak boleh dilewatkan. Sebergemuruh apapun dada Anda, segugup apapun, jangan lupakan permohonan agung ini. Inilah doa yang akan memupus campur tangan makhluk pengganggu, saat Anda melakukan hubungan paling pribadi dengan pasangan Anda. Doa inilah yang insya Allah, menjaminkan kesucian bagi Anda berdua dan juga bagi keturunan Anda: Bismillāh. Allōhumma jannibnasy-syaitōna wa jannibisy-syaitōna mā rozaqtanā. (Dengan nama Allah. Ya Allah, jauhkan kami dari syaitan, dan jauhkanlah syaitan dari anak yang akan Engkau karuniakan kepada kami).

Uh, ternyata panjang juga ya, membahas setitik ilmu saja tentang nikah. Tak terasa kita sudah ada di halaman lima. Kalau gitu cukup dulu deh. Memang ilmu Allah itu luas. Tak kuasa semua makhluk melukiskan keluasan ilmu-Nya. Kini, saatnya kita melaksanakan ilmu yang setitik ini. Setelah itu berhasil, mungkin kita punya kesempatan ke depan untuk kembali mengkaji masalah-masalah terkait dengan pernikahan dan rumah tangga. Semoga Allah memberikan keberkahan atas pertemuan kita kali ini.

Subhānaka allōhumma wabihamdika asyhadu allāilaha illā anta astagfiruka wa atūbu ilaīk.

 

 

About 1nd1r4

Kuhabiskan masa kecil hingga dewasa di Bali, the Island of Paradise....hidup dengan mengikuti alir yang ditentukan yang Maha Kuasa...what I want is just TO BE HAPPY!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s