Taken from www.familymin.org

“Alone doesn’t mean lonely”

 

Kadang-kadang kita ingin dibiarkan sendiri “leave me alone”, tapi jangan sampai merasa kesepian (lonely). Berada jauh dari keluarga pasti akan mendatangkan kerinduan tersendiri, memang keluarga tidak tergantikan tapi kita bisa mengobati kerinduan dan menghindari being lonely dengan mencari keluarga baru. Bagaimana caranya? Memangnya semudah itu mencari pengganti keluarga? Pasti masih ada sederet pertanyaan bernada protes terkait dengan istilah “mencari keluarga”. Buat yang sudah menikah dan istri/suami dan anak-anaknya tidak dibawa, ini jangan dijadikan alasan atau dasar untuk melontarkan pertanyaan: “Apakah saya harus menikah lagi untuk mencari keluarga baru?” maaf ya bapak-bapak, ibu-ibu, mbak, mas, teteh dan aa yang sudah menikah…saya nanti dosa kalo tulisan ini dijadikan dasar untuk polygamy atau polyandry…;-) . Bukan juga berarti bahwa anda harus berkeliling door to door dan bertanya “will you be my family?” Hasilnya anda akan dilaporkan ke pihak yang berwajib karena mengganggu ketentraman orang atau lebih parah lagi disangka sakit ingatan….bisa dibatalkan beasiswanya dan dideportasi ke Indonesia…sudah jatuh..tertimpa durian pula…sakit dan babak belur kan…😉

 

Saya sendiri merasakan sedihnya jauh dari keluarga, tapi pesan mama tersayang “homesick (mama sich ga pake istilah ini…biar agak keren dikit ajah..heheh) bisa diobati dengan mengingat saat-saat menyenangkan yang pernah kita habiskan dengan keluarga”. Saling support sangan penting dalam hubungan keluarga, jadi kita tidak merasa “terbuang”. Kembali ke istilah “mencari keluarga”, kenapa saya gunakan istilah “mencari” karena memang anda tidak akan temukan kalo tidak ada usaha untuk mencari dan menjadikan orang-orang tersebut keluarga anda sendiri. Bahkan seringnya anda tidak sadar bahwa “keluarga” itu ada disekitar kita, hanya kita saja yang belum “tersadar”.

 

Keluarga baru yang pertama saya temukan bahkan sebelum menginjak tanah Australia…tepatnya saya menemukan keluarga baru itu di Airport Ngurah Rai. Ada rasa cemas saat harus menempuh perjalanan jauh sendirian, tapi Alhamdulillah di airport saya bertemu 5 orang rekan sesama penerima ADS … mohon ijin ya disebut namanya…Pak Ikhsan, Burhan, Septi, Vike dan Nur (sebenarnya ada 2 lagi, tapi sayang saya lupa namanya karena kami duduk berjauhan saat di pesawat). Kami langsung akrab dan saling membantu selama perjalanan hingga sampai di Australia. Mulai dari berbagi biscuit untuk menahan lapar (kami 5 jam menunggu di bandara Sydney sebelum melanjutkan perjalanan ke Melbourne), belajar cara minum dari keran sampai menunggu jemputan di Tulamarine airport (2 jam kami menunggu dijemput). Dalam waktu begitu singkatnya kami bisa menjadi akrab dan saling membantu…hubungan bisa putus begitu kita sama-sama sampai tujuan, sekali lagi ini tergantung diri kita sendiri. Tapi saya memutuskan untuk menjaga hubungan ini…sampai saat ini komunikasi diantara kami Alhamdulillah berjalan baik. Bahkan Septi sudah menikah…dengan dukungan teman-teman yang bagaikan keluarga pernikahan berjalan lancar.

 

Keluarga kedua saya temukan begitu saya menginjakkan kaki di temporary accommodation saya. Saya disambut Mbak Ningrum yang sebelum keberangkatan sudah sering kontak via email dengan saya. Setelah disambut angin dingin Melbourne, masuk ke dalam rumah dan bertemu teman-teman setanah air memberi rasa hangat dan aman. Saat itu juga saya dikenalkan dengan housemate yang lain, namanya Mbak Suci. Kebetulan mereka sedang memasak saat saya sampai, dan Alhamdulillah setelah lebih dari 10 jam, akhirnya perut saya kemasukan nasi dan sup hangat. Housemates yang luar biasa, very helpful and friendly. Saya diantarkan ke kampus untuk registrasi, diantar belanja…dan masih banyak lagi…my deepest gratitude for both of you….Tapi hari kedua rumah kami kedatangan 2 orang penghuni baru…Mbak Asih dan Qq…tambah ramai dan hangat dengan tawa dan candalah rumah kami. Keluargaku bertambah besar…heheheh😉 . Eh ada yang ketinggalan, ada Mbak Erni juga…heboh kalo diajak ngobrol…

 

Keluarga ketigaku kutemukan setelah Introductory Academic Program (IAP) dimulai. Saya bertemu dengan penerima ADS yang belajar di Monash University. Kami sering menghabiskan waktu bersama sambil makan siang di bawah pohon depan religious centre dan menunggu waktu dzuhur tiba. Ada Era, Ida, Indah, Arya, Meike, Mia, Ami, Mbak Ola, Retno, Feni, Devi, Pak Yahya, Pak Aan (ternyata kenal dengan papa saya juga), Mas Budi, Trisno dan juga Novi…(buat yang belum kesebut…maaf yah, memory iin harus diupgrade ke 1 gigabyte kayanya)😉 .  Luar biasa berkah Allah SWT, saya dikelilingin dengan orang-orang yang begitu baik. Tahajud dan Subuh bersama di Masjid Westall dan BBQ adalah media lain untuk terus memanjangkan tali silaturahmi diantara kami.

 

Belum lagi 6 purnama saya berada di Australia, saya sudah mendapatkan begitu banyak keluarga baru…saya harap bukan hanya saya yang merasa bahwa anda semua adalah keluarga…My Friends = My Family …thank you all for being so friendly, honest and supportive ….

About 1nd1r4

Kuhabiskan masa kecil hingga dewasa di Bali, the Island of Paradise....hidup dengan mengikuti alir yang ditentukan yang Maha Kuasa...what I want is just TO BE HAPPY!

3 responses »

  1. utami says:

    kekekekek… Ada nama ami nyelip… Lumayan, nebeng ngetop di blog orang.
    Halo pembaca semuaaa… Perkenalkan, saya Ami, salah satu teman Indira… Salam kenal buat semua… *lambai-lambai*
    Love and peace… Mmmuaaahhh…

  2. 1nd1r4 says:

    Hhehehe…sayang belum muncul fotonya disini…sabar ya Ami….

  3. tia says:

    Ijin pake’ gambarnya buat foto profilku di FB ya, mbak. Thanks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s