Sudah tak terhitung berapa orang, kerabat, sahabat dan rekan kerja yang bertanya kapan saya akan menikah. Beberapa tahun yang lalu, pertanyaan ini tidak begitu mengganggu pikiran saya…tapi sekarang terasa sedikit menggelitik hati, dan berat untuk saya jawab. Saat masih duduk di bangku kuliah saya berpikir sangat sederhana, setemat kuliah nanti saya akan bekerja selama 1 atau 2 tahun kemudian akan menikah dan mempunyai anak. Manusia boleh berkehendak Allah yang yang menentukan. Tiga bulan yang lalu usia saya menginjak 28 tahun dan saya tidak pernah segan untuk menyebutkannya jika ada yang bertanya. Usia saya kalo diistilahkan sudah masuk lampu kuning, zona yang sudah bikin orang tua terutama bunda mulai berpikir untuk mencarikan jodoh saja buat anaknya. Alhamdulillah saya dikarunia orang tua yang sangat pengertian, dan percaya bahwa jodoh ada ditangan Allah dan tak pernah putus mendoakan agar saya segera dipertemukan dengan sosok yang kelak bisa menjadi imam dalam keluarga. Usia 28 bisa dibilang usia matang, tapi tidak menjamin juga bahwa kalau sudah menginjak usia ini maka seseorang akan memiliki kematangan dalam berpikir sekaligus bertindak.

Menikah adalah menggenapkan separuh dien, saya juga tahu kalo menikah itu sunnah Rasul. Tapi, menikah itu bukan hanya mempertemukan seorang lelaki dan seorang wanita saja. Menikah bukan hanya main-main, menikah juga merupakan pertemuan dakwah yang akan dituntut pertanggungjawabannya di hari akhir nanti.

Katakanlah saya akan segera menikah (read: ASAP – As Soon As Possible), calon suami seperti apa yang harus saya pilih? Saya ingin membangun keluarga yang dilandasi taqwa, karena langkah pertama adalah dengan mencari pasangan yang baik tidak hanya dari segi penampilan luarnya saja tapi juga baik keIslamannya. Sosok yang akan mendayung perahu bersama, yang selalu mengingatkan bila ia lupa, memberi dorongan dakwah dan tidak menghalanginya. Nah ini dia pasangan yang saya cari…sosok yang sholeh.

Menikah adalah komitmen seumur hidup, sampai Allah memutuskan salah satu atau bahkan keduanya harus kembali pada-Nya. Jadi sayapun tidak mau gegabah memilih pasangan (read: hanya mengandalkan keinginan untuk menikah cepat saja). Begitu pula saya. Saya ingin dinikahi bukan semata-mata karena sang calon melihat kelebihan saya saja (kalau ada). Saya ingin dinikahi seseorang karena cintanya pada Allah, karena ia ingin berdampingan menuju jalan surga-Mu. Saya ingin menjadi istimewa dimatanya, dapat membuat binar pelangi kebahagiaan yang tulus diwajahnya, serta dapat membumikan cinta kedalam hatinya. Dan dengan senyum tulusnya pula, dia mampu membuat hati saya bergetar penuh syukur keharuan akan anugerahNya.

Ya Rabbi, anugerahkanlah hamba salah seorang hambaMu yang sholeh yang dapat menjadikan hamba seorang istri yang sholehah, yang dapat menjadikan hamba ibunda dari para jundi-jundiMu, yang dapat membantu hamba menegakkan dienMu, membahagiakan kedua orang tua kami, meninggalkan dunia ini dalam keadaan khusnul khatimah, dan menjadikan hamba akhlus surga .. Amin ya Allah ya robbal alamin..

About 1nd1r4

Kuhabiskan masa kecil hingga dewasa di Bali, the Island of Paradise....hidup dengan mengikuti alir yang ditentukan yang Maha Kuasa...what I want is just TO BE HAPPY!

One response »

  1. Lion_king says:

    Amien…, disamping berusaha dan terus berdoa ama Allah SWT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s