Jangan berpikir buruk dulu yah, yang saya maksudkan dengan hidup bersama disini adalah hidup satu rumah dengan orang yang bukan kerabat dan tak jarang juga baru kita kenal saat masuk ke rumah tersebut (tapi sejenis yah – cewek semua atau cowok semua). Kita tidak akan berbicara tentang sebuah kost-kostan dengan deretan kamar yang masing-masing memiliki kamar mandi dan dapur sendiri, tapi tinggal dalam satu rumah (read: unit) dengan berbagi satu dapur, alat-alat makan & masak, (beberapa) bumbu dapur, kamar mandi dan toilet, mesin cuci, setrika dan jemuran. Untuk bisa berjalan dengan lancar, tinggal dengan kondisi seperti ini membutuhkan sebuah seni – seni hidup bersama.

Seperti saya ceritakan sebelumnya (kalo ada yang belum baca, saya baru kedua kalinya tinggal jauh dari keluarga – read: kost), ini pengalaman pertama saya tinggal satu rumah dengan orang yang bukan keluarga (tapi saat ini mereka sudah saya anggap keluarga saya sendiri). Kalau anda bertanya bagaimana rasanya? Rasanya sangat menyenangkan, sebuah pengalaman hidup yang sangat berguna. Saya kembali harus bersyukur pada Allah SWT karena memberi saya teman serumah yang sangat baik dan membantu. Mereka mengajarkan saya banyak hal, diantaranya tentang bersabar, bertoleransi, tanggungjawab & kepedulian serta saling membantu. Ini bulan keempat saya disini, tapi kami semua sudah seperti kenal belasan tahun (inginnya pake kata puluhan tahun, tapi kok kesannya saya sudah tua banget yah..hehehehe)😉 . Saya akan uraikan sedikit apa seni hidup bersama menurut Indira😉 :

Seni Kesabaran

Mengapa kita butuh kesabaran kalau tinggal bersama? Karena kalau tidak maka acara mandi, mencuci atau memasak bisa jadi ajang perang dunia ketiga. Sebagian fasilitas tersebut kita gunakan bersama, jadi kita harus bersabar menunggu saat kita bangun kesiangan, ada kuliah setengah jam lagi dan seseorang sedang asyik mandi, kita harus bersabar saat tiba-tiba mie ayam yang kita masak membuat perut kita mulas dan menuntut segera ke toilet sedangkan seseorang juga sedang punya urusannya sendiri disana (ini situasi yang sangat sulit – Alhamdulillah saya belum pernah mengalaminya), kita harus sabar saat perut sudah keroncongan, ingin memasak mie instant agar cepat, tapi satu panci digunakan untuk memasak nasi, panci kedua digunakan untuk memasak sup dan panci ketiga masih tergeletak di bak cucian sejak semalam (pemakai terakhir belum mencucinya), kita juga harus bersabar saat stok pakaian dalam sudah menipis dan seseorang sudah 2 hari berturut-turut menggunakan mesin cuci dan jemuran (karena menurut ramalan cuaca akan hujan dan mendung seminggu ke depan), kita juga harus sabar saat rekan serumah kita pulang ke tanah air setiap liburan, menerima telp dari keluarga atau dikunjungi keluarga. Percayalah semua ini sangat mungkin terjadi, dengan bersabar akan membuat kita lebih bijaksana dan lebih ikhlas menjalani semuanya. Tapi harus diingat, selain bersabar kita juga perlu terbuka. Dengan terbuka, jika ada sesuatu yang kurang berkenan, bisa kita komunikasikan…

Seni Bertoleransi

Hal yang sangat diperlukan dalam hidup, karena kita sebagai manusia tidak akan bisa hidup sendiri. Kita harus bertoleransi dengan segala perbedaan dan persamaan yang ada di masyarakat, dan rumah ini adalah masyarakat dalam skala kecil. Rekan serumah kita datang dari berbagai tempat dengan latar belakang budaya dan social yang berbeda yang tentunya sedikit banyak mempengaruhi gaya hidup mereka. Tanpa rasa toleransi maka keharmonisan hubungan tidak akan tercipta. Makanan adalah contoh kecilnya. Ada rekan serumah kita yang gemar memasak dan makan makanan berempah yang aromanya lumayan kuat, sehingga tak jarang seluruh rumah bisa beraroma kare atau sambal terasi. Toh dia tidak memasak menu ini setiap hari, tutup saja pintu dan buka jendela kamar kita agar udara lebih segar. Jangan lupa ingatkan untuk menghidupkan penyaring udara (jika dapur anda dilengkapi fasilitas ini). Kalau rekan serumah anda berbeda keyakinan, maka toleransi ini juga jadi sangat penting. Misalnya anda seorang muslimah berjilbab, maka perlu diinforasikan pada rekan anda untuk memberi tahu jika ada teman pria yang akan berkunjung, sehingga anda tidak melenggang keluar kamar tanpa jilbab anda.

Seni Bertanggungjawab & Kepedulian

Tinggal bersama, anda bukan hanya bertanggungjawab terhadap diri dan kamar anda sendiri tapi juga rumah secara keseluruhan. Jika anda tidak punya tanggungjawab dan kepedulian terhadap rumah dan isinya maka bisa susah nantinya. Saya ambil contoh sederhana, soal mengunci pintu rumah. Bisa dibayangkan jika anda sebelum pergi tidak memastikan apakah semua pintu sudah terkunci dengan baik maka, resiko kemalingan tidak hanya ditanggung oleh anda tapi juga seluruh penghuni rumah. Anda tidak peduli ada rekan yang lupa bahwa sedang memasak nasi (toh ini tanggungjawab dia, bukan urusan saya), hasilnya rumah bisa bau hangus dan lebih parahnya lagi adalah kebakaran. Saya dan rekan mengatur piket untuk memberi tanggungjawab pada setiap penghuni. Piket dibagi menjadi tiga bagian (karena kami bertiga): membersihkan kamar mandi & toilet, memasak nasi & mendorong tempat sampah dan membersihkan dapur & membuang sampah dari dapur. Dengan mengatur sedemikian rupa, maka kita melatih diri sendiri untuk lebih bertanggungjwab dan peduli dengan rumah bersama ini.

Seni Saling Membantu

Saat rekan kita pergi ke kampus, tiba-tiba hujan turun dan pakaian dia masih menggantung di jemuran. Haruskah kita berdiam diri? Bantulah dia dengan mengangkat jemurannya, dengan demikian dia tidak perlu mencuci lagi (menghemat air dan listrik juga..heheh)😉 . Ada rekan yang sedang sedih karena ada kerabat yang sakit atau ada masalah pribadi, maka kita bisa membantu dengan menjadi pendegar baik (dengan catatan dia mau bercerita pada kita) atau memberi semngat buat dia. Kalo dia ingin sendiri, maka tidak usah memaksa untuk menghibur dan ngobrol dengannya (sometimes we need to be alone).

Yah..gitu dech kurang lebih yang bisa saya bagi tentang seni hidup bersama. Masih banyak lagi seni-seni lain yang tidak bisa saya tulisakan satu per satu disini. Seiring waktu dan dengan adanya kemauan, anda bisa mempealajari dan menguasai seni hidup bersama ini…selamat mencoba!

Picture: http://www.cartoonstock.com/newscartoons/cartoonists/rha/lowres/rhan303l.jpg

About 1nd1r4

Kuhabiskan masa kecil hingga dewasa di Bali, the Island of Paradise....hidup dengan mengikuti alir yang ditentukan yang Maha Kuasa...what I want is just TO BE HAPPY!

2 responses »

  1. Utami says:

    Heuuuu…Seru kan jadi anak kost? Tapi pastinyaa…tidak semerana Padhyangan Project di Nasib Anak Kost kaaannn… Aku juga waktu di Jogja dulu sama temen-temen sekos udah kayak sodara sendiri. We even still keep in touch now, walaupun udah 4 tahun berpisah…, malah sama salah satu temen yang aku panggil sebagai Gagak Hitamku (fair enough, secara dia manggil aku burung hantu buruk rupaku… ;p ) sampai sekarang masih suka curhat-curhatan di tengah malam (walaupun sekarang bisanya cuma lewat YM).
    Waktu kos di Banjarbaru juga, secara aku yang paling senior di kost, berasa punya banyak adik lagi yang syukurnya seru abiiisss….

  2. 1nd1r4 says:

    Tapi Mi, gagak hitam masih lebih keyen daripada burung hantu buruk rupaa..hihihi..secara burung hantu udah serem..eh ini malah pake buruk rupa segala….yup memang tinggal bersama itu seru, tergantung kita menjalaninya ajah…..HIDUP ANAK KOST!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s