Sejak pengumuman kelulusan Ujian Nasional tingkat SMU, acara televise dipenuhi segala cerita terkait hal tersebut. Mulai dari sorak sorai, corat coret seragam sampai konvoi kendaraan bermotor siswa yang lulus, sampai jeritan hysteria, tangisan, kesurupan dan kemarahan siswa yang tidak lulus. Semua mewarnai kisah Ujian Nasional di negeri kita tercinta ini.

Semalam salah seorang siswa kursus saya yang Selasa (4 April 2010) nanti akan menghadapi Ujian Nasional tingkat SD bercerita bahwa mulai hari Senin guru sekolah meminta semua siswa mengikuti les intensif untuk UN sampai nanti UN berakhir. Jujur saya terkejut, kenapa les intensif diadakan saat UN berlangsung. Idealnya semua itu dilaksanakan sebelum ujian diadakan, dan dihentikan setidaknya beberapa hari menjelang ujian. Idealnya (menurut saya loh), mendekati UN, siswa harusnya ditenangkan…berada dalam keadaan rileks sehingga menghindari rasa grogi, tegang atau yang lebih parah lagi rasa takut. Porsi belajar sebaiknya dikurangi, jadi sifatnya hanya pengulangan atau pemantapan. Jadi saat UN tiba, bukan hanya fisik tetapi juga psikis mereka siap untuk mengikutinya. Peran orang tua juga sangat penting dalam mendukung kesiapan siswa mengikuti UN. Jangan sampai mengancam atau menakuti-nakuti seperti “Awas kalau nggak lulus UN, mama/papa kurung di rumah sampai lulus nanti” atau “Kalau nggak lulus UN kamu nikah aja ama juragan kambing kampong sebelah. Rugi disekolahin mahal-mahal tapi nggak lulus”. INGAT! Belajar tak pernah rugi dan kenali putra putrid anda sebelum menghakimi mereka.

Kembali pada soal pengumuman kelulusan. Ada siswa sebuah sekolah yang tidak lulus dan kemudian meluapkan kekesalan mereka dengan merusak sekolah. Tapi anehnya, sebelum aksi tersebut…mereka sudah sempat corat coret seragam sekolah. Lah??? Aneh aja menurut saya, kan sedih kalau ga lulus, ehhh…sempat-sempatnya corat coret seragam dulu sebelum ngamuk-ngamuk. Saya Tanya ya adik-adik…

Kalau nggak lulus UN nih…

Apa ketidaklulusan itu salahnya gedung sekolah ?

Tau nggak kalau gedung itu dibangun dan dirawat dari uang kalian juga ?

Apa kalian berhak berbuat onar ?

Apa kalian otomatis punya hak untuk menghancurkan sekolah?

Apa kalian berhak mencaci para guru?

Apa dunia akan berhenti berputar?

Apa hidup akan berakhir?

Adik-adik sekalian, life must go on. Daripada kalian melakukan hal-hal yang akan kalian sesali di kemudian hari, lebih baik bercermin pada kesuksesan yang tertunda ini. Menyalahkan orang lain memang mudah, tapi tidak akan menyelesaikan masalah. Masih ada kesempatan di ujian ulang. Persiapkan diri dengan lebih baik dan jauhkan pikiran kalian dari ketakutan akan Ujian Nasional. Katakan AKU BISA, Insya Allah kalian bisa, coz what you think is what you become🙂

About 1nd1r4

Kuhabiskan masa kecil hingga dewasa di Bali, the Island of Paradise....hidup dengan mengikuti alir yang ditentukan yang Maha Kuasa...what I want is just TO BE HAPPY!

25 responses »

  1. shalimow says:

    apa kabar indira?
    lama nggak update ya
    UN memang ditentukan banyak faktor
    yang utama saya kira komitment stakeholder terkait

  2. achoey says:

    Ada banyak hal yang membuat masih banyak yg tidak lulus
    Jangan lama2 terpuruk
    Segera bangkit untuk kembali belajar😀

    Betul gak?🙂

  3. utami says:

    Huaahh…
    akhirnya lo apdet juga In…
    ho’oh… ga habis pikir sama anak-anak yang malah pada rusuh kalo ga lulus UN

    tapi perasaan, mereka lulus pada konvoi dan ugal-ugalan di jalan
    ga lulus juga bikin onar
    *nepok jidat sambil geleng-geleng kepala*

    perasaan ajamn aku SMA dulu ga sampe sebegitunya deeehh…

  4. Bintang says:

    Nice Posting, Sist…. Semoga adik2 kita yang masih sekolah dan akan mengikuti ujian tahun depan bisa menjadi lebih tenang dan tidak berbuat anarkis.😉

    Tapi memang, jika dibandingkan dengan zaman kita sekolah dulu, standar kelulusan sudah jauh berbeda…. Sekarang ini memang standarnya tinggi banget, sekitar 5 koma sekian gitu ya?

    Dan sebagai orang tua, alangkah lebih baiknya jika kita senantiasa memantau perkembangan anak kita di sekolah. Paling tidak selalu berkomunikasi utnuk memahami kesulitan-kesulitan atau kendala-kendala apa saja yang dihadapi oleh anak kita…🙂

    Lebih bagus lagi jika kita bisa terlibat saat anak sedang belajar di rumah…:mrgreen:

  5. jacky says:

    bagi yg tidak lulus jangan bersedih…… masih ada kesempatan… klomau cari kerja kesini yak…..
    http://bursa-lowongan-kita.blogspot.com/

  6. wi3nd says:

    setiap tahun ketika men9hadapi UN ini selalu be9ini yah ind?

    miris rasanya melihat tayan9an ini.

    dan sempet ka9et waktu ada satu sekolah yan9 tak lulus😦

    klu be9ini sapah yan9 harus disalahin?

    yupz,bener ind,katakan BISA insya Allah pasti bisa,makanya belajar😀

  7. yanrmhd says:

    tetep semangat!!, hidup tidak ditentukan oleh
    sebuah ujian…
    masa depan tak ditentukan sebuah ujian sekolah, asal ada
    kemauan dan semangat pasti bisa!!

    berputus asa hanya akan menambah beban diri sendiri dan orang tua,,

  8. wah semoga tuk yg tak lulus bisa lebih mencermatinya dengan sikap tuk mengubah hal sedemikian menjadi lebih baik lagi
    semangat
    pastilah banyak faktor y yg menyebabkan banyaknya ketidak lulusan
    salam hangat dari blue

  9. ossmed says:

    gimaana??? lulus?/

    mampir dulu
    penyakit GO:yang menular melalui hubungan seksual

    –> saya? sudah lulus bertahun2 yang lalu😀

  10. Jelas kita gak bisa menyalahkan “adik-adik” itu. Bahkan dalam kitab undang-undang pidana sekalipun tidak bisa dikenakan pada mereka. Karena apa? karena dinilai belum matang dalam mengambil keputusan.

    Kitalah yang lebih dewasa yang harusnya berpikir tentang masa depan mereka. Masih tak bolehkan kita menyalahkan guru-guru yang diam saja, membiarkan ujian nasional yang tidak adil itu terus berlangsung? Masih tak bolehkan kita marah dengan isntitusi sekolah yang membiarkan ujian tak kenal belas kasih (meski bapak baru ketabrak kereta pun harus ikut ujian tanpa terkecuali).

    Di negara yang lebih mapan, tidak ada yang namanya ujian kelulusan. Yang ada adalah ujian masuk ke jenjang lebih tinggi (itu pun baru ada selepas SMA). Efek psikologisnya jelas beda antara gagal ujian kelulusan dengan gagal ujian masuk perguran tinggi negeri misalnya. Apalagi, sejak dini anak boleh memilih sendiri mana mata pelajaran yang disukainya. Dari sini anak belajar bertanggung jawab untuk belajar hal yang memang disukainya. Dan tidak dengan metode memaksa macam kurikulum disini.

    Bagaimana mungkin ujian standarisasi diterapkan pada hal-hal yang sangat tidak standar. Maukah mereka macam guru-guru, kepala sekolah, kanwil, hingga menteri mengikuti ujian standar kelulusan setiap tahun? Kalau ndak lulus harus dipecat. Ini untuk menjaga standar. Kalau mereka mau dan fasilitasnya sudah standar barulah boleh kita menguji dengan kualitas standar yang sama. Lah wong baru ada isu sertifikasi saja guru sudah kalang kabut koq.

    Jadi sekali lagi apakah mereka pantas mencaci para guru yang diam saja melihat muridnya disemena-menakan oleh sistem?

    –> terima kasih untuk komentarnya . diam ataupun bersuaranya sang guru, tidak bisa dijadikan alasan untuk mencaci dan merusak. Sekali kta “ijinkan” untuk melakukannya, maka itu menjadi hal yg ‘dilegalkan” dengan alasan2 yg selalu saja bisa diciptakan. Bahkan negara maju juga memerlukan waktu untuk sebuah perubahan, at least sekarang ujian sekolah dipertimbangkan juga. Perubahan besar butuh waktu, dan we’re working on it. Finger pointing sangat mudah…tapi tidak menyelesaikan masalah…intinya kerjasama cari solusi daripada sibuk mencaci dan berbuat anarki🙂

  11. salam kenal mbak indi
    Ujian memng upaya evaluasi standart
    pasti akan terlihat disparitas
    aksi setelahnya justru yang menentukan

  12. anny says:

    Punya rasa kecewa ketika tak lulus itu manusiawi, tapi apa mau dikata kenyataan demikian, yang ada harus bangkit dan kejar ketinggalan, masih banyak kesempatan, jangan disia siakan betul gak Iin😀
    Buat adik2 yg gak lulus ingat kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda

  13. semangat jeung In
    salam hangat dari blue

  14. Yups,,, Selalu berpikiran positif, ,Harus semangat dan giat belajarnya,,, Semuanya itu mungkin kok, pertinggi angan dan berusahalah dengan keras,,,

    Salam semangat selalu untuk adik2 di SMA🙂

  15. fitrimelinda says:

    ckkckc..anak2 zaman sekarang..

    padahal ga perlu bertindak seperti itu..

  16. Bung Eko says:

    Hehehe, lucu juga melihat ujian nasional ini. Maunya pemerintah apa sih? Kalau fasilitas pendidikan sudah mentereng dan standar semua di seluruh Indonesia, barulah boleh dan fair dilakukan UN. Lha, kalo masih ada yang sekolah dengan 1 guru untuk semua mata pelajaran terus kalau hujan kelasnya bocor, minus buku, minus fasilitas pendukung, masa iya ujiannya mau standar?

    Saya beruntung gak mengalami UN, sebab saya sekolah di daerah trans yang jauh dari sentuhan dan kepedulian pemerintah. Bahkan saya lulus dari sebuah SD yang kalau hujan siswanya boleh tidak pakai sepatu. Keren kan? ^_^

  17. nh18 says:

    Rugi disekolahin mahal-mahal tapi nggak lulus

    Ini kata-kata yang juga paling saya benci Ind …
    Mosok sekolah kayak ke supermarket …
    Sekolah itu bukan jual beli …

    Ok ada uang masuk, iuran dan yang sejenisnya .,.
    tetapi jangan seperti dagangan begitu …

    Yang jelas saya setuju dengan Indira …
    “Katakan AKU BISA, Insya Allah kalian bisa, coz what you think is what you become …”

    Salam saya Indi …

  18. idawy says:

    Indiiiiii… whuaaa ga nyangka ya, lama ga maen kesini ternyata perubahannya udah banyak.. selamat ya say.. udah balik ke Indo, udah jd nyonya, and.. udah pake jilbab, what a surprise!!

    back to topic..
    UN, dgn sistem skrg tentu saja ada pro kontra, kyknya udah ganti menteri tetap diadain, berarti ada perubahan yg signifikan kan.. mdh2an semakin baik ya.. bravo pendidikan Indonesia!

  19. […] memilih. Membuat sebuah pilihan dalam hidupnya. Bukan lagi sebagai seorang pekerja profesional. Kali ini dia memilih untuk hanya menjadi seorang ‘tukang mie’. “hanya menjadi […]

  20. abu ghalib says:

    salaman dulu ah, lama ga jumpa
    selamat datang kembali😀

  21. sadam7 says:

    Nte Indiraaa ,,, do’ain Daffa nanti lulus UN ya,,, hoho

  22. Eru says:

    Ga bisa totally nyalahin orang tua-nya karena.. ya bener sih.. sekolah sekarang mahal2😦

    Ga bisa totally nyalahin anak-anak-nya itu, karena kadang kelulusan itu juga bukan karena mereka yang kurang usaha.
    ….
    Aku pernah denger cerita teman dari teman yang jadi panitia pemeriksa soal-soal ujian semacam itu beberapa tahun yang lalu, waktu itu sekitar beberapa ratus lembar lembar jawaban secara tidak sengaja tersiram kopi sehingga rusak. Sebagai panitia ga mungkin kan mengadakan ujian susulan untuk beberapa ratus pelajar doang, karena alasan tersiram kopi😀 Apa yang terjadi? ya beberapa ratus nasib itu dianggap tidak lulus.

    Ga bisa totally nyalahin guru-gurunya juga karena kadang untuk memikirkan nasib sendiri saja sulit…

    Jadi tiap tahun tangis akan tumpah karena alasan seperti ini😀 membangun siswa2 hasil produksi masal yang sesuai dengan standar pemerintah

    *sigh*

  23. fani says:

    memberi semangat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s