Mencari Rahmat

Important Note:

Postingan ini dibuat semata-mata karena kami (saya dan suami) tidak berhasil juga menghubungi orang yang dimaksud dalam postingan ini. Menulis di blog adalah bagian dari ikhtiar kami agar urusan diantara kamis segera menemukan kejelasan dan penyelesaian. Tidak ada maksud untuk mencemarkan nama baik atau sejenisnya. Terima Kasih

Membaca judulnya mungkin ada yang mengira postingan ini berkaitan dengan kerohanian 🙂 . Tidak salah juga sih, karena memang tujuannya agar tercapai ketengangan lahir dan batin (alias rohani). To the point aja yah, melalui postingan ini saya dan suami ingin meminta bantuan teman-teman sekalian seandainya memang mengenal atau mengetahui sosok yang akan saya jelaskan berikut ini. Informasi yang kami miliki sangat sedikit, karena itulah kamipun kesulitan untuk menemukannya. Singkat cerita kami mencari seseorang bernama RAHMAT yang nama lengkapnya kami tidak tahu. RAHMAT ini pernah tinggal di Bandung, di daerah CIGADUNG, di sebuah rumah dengan 1 rumah inti dan 3 paviliun yang dulunya ditempati RAHMAT dan dua saudaranya ketika sudah menikah namun belum memiliki rumah sendiri. Setelah berkeluarga RAHMAT tinggal di Jakarta, di daerah BINTARO. Ibunda dari RAHMAT meninggal dunia kira-kira bulan Oktober 2009. Sejatinya urusan kami adalah dengan alm.ibunda RAHMAT, namun sejak beliau meninggal urusan ini dilimpahkan pada RAHMAT (note: RAHMAT lah yang menghubungi kami setelah ibundanya meninggal dunia). Awalnya kami menganggap RAHMAT mempunyai itikad yang sangat baik karena telah menghubungi kami dan berjanji menyelesaikan urusan yang ada diantara kami. Sayangnya itu tidak berlangsung lama, RAHMAT hanya memberi janji dan tiba-tiba nomor telephone yang biasa dipakai berkomunikasi tidak lagi aktif. Kami akan sangat menghargai jika saudara RAHMAT jujur pada kami seandainya tak mampu atau belum bisa menyelesaikan urusan yang ada diantara kita. Insya Allah semuanya bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Jika siapapun yang mengenal RAHMAT seperti yang saya maksud diatas, atau bahkan saudara RAHMAT sendiri membaca tulisan ini, mohon menghubungi saya di indira_80_2003@yahoo.com atau suami saya di 081221249358. Kami tunggu itikad baiknya. Terima kasih

Advertisements

Jika tak lulus Ujian Nasional…

Sejak pengumuman kelulusan Ujian Nasional tingkat SMU, acara televise dipenuhi segala cerita terkait hal tersebut. Mulai dari sorak sorai, corat coret seragam sampai konvoi kendaraan bermotor siswa yang lulus, sampai jeritan hysteria, tangisan, kesurupan dan kemarahan siswa yang tidak lulus. Semua mewarnai kisah Ujian Nasional di negeri kita tercinta ini.

Semalam salah seorang siswa kursus saya yang Selasa (4 April 2010) nanti akan menghadapi Ujian Nasional tingkat SD bercerita bahwa mulai hari Senin guru sekolah meminta semua siswa mengikuti les intensif untuk UN sampai nanti UN berakhir. Jujur saya terkejut, kenapa les intensif diadakan saat UN berlangsung. Idealnya semua itu dilaksanakan sebelum ujian diadakan, dan dihentikan setidaknya beberapa hari menjelang ujian. Idealnya (menurut saya loh), mendekati UN, siswa harusnya ditenangkan…berada dalam keadaan rileks sehingga menghindari rasa grogi, tegang atau yang lebih parah lagi rasa takut. Porsi belajar sebaiknya dikurangi, jadi sifatnya hanya pengulangan atau pemantapan. Jadi saat UN tiba, bukan hanya fisik tetapi juga psikis mereka siap untuk mengikutinya. Peran orang tua juga sangat penting dalam mendukung kesiapan siswa mengikuti UN. Jangan sampai mengancam atau menakuti-nakuti seperti “Awas kalau nggak lulus UN, mama/papa kurung di rumah sampai lulus nanti” atau “Kalau nggak lulus UN kamu nikah aja ama juragan kambing kampong sebelah. Rugi disekolahin mahal-mahal tapi nggak lulus”. INGAT! Belajar tak pernah rugi dan kenali putra putrid anda sebelum menghakimi mereka.

Kembali pada soal pengumuman kelulusan. Ada siswa sebuah sekolah yang tidak lulus dan kemudian meluapkan kekesalan mereka dengan merusak sekolah. Tapi anehnya, sebelum aksi tersebut…mereka sudah sempat corat coret seragam sekolah. Lah??? Aneh aja menurut saya, kan sedih kalau ga lulus, ehhh…sempat-sempatnya corat coret seragam dulu sebelum ngamuk-ngamuk. Saya Tanya ya adik-adik…

Kalau nggak lulus UN nih…

Apa ketidaklulusan itu salahnya gedung sekolah ?

Tau nggak kalau gedung itu dibangun dan dirawat dari uang kalian juga ?

Apa kalian berhak berbuat onar ?

Apa kalian otomatis punya hak untuk menghancurkan sekolah?

Apa kalian berhak mencaci para guru?

Apa dunia akan berhenti berputar?

Apa hidup akan berakhir?

Adik-adik sekalian, life must go on. Daripada kalian melakukan hal-hal yang akan kalian sesali di kemudian hari, lebih baik bercermin pada kesuksesan yang tertunda ini. Menyalahkan orang lain memang mudah, tapi tidak akan menyelesaikan masalah. Masih ada kesempatan di ujian ulang. Persiapkan diri dengan lebih baik dan jauhkan pikiran kalian dari ketakutan akan Ujian Nasional. Katakan AKU BISA, Insya Allah kalian bisa, coz what you think is what you become 🙂

Incurable bad habits of just being ignorant?

Disclaimer:

Tulisan ini dibuat untuk berbagi dan pembelajaran bersama, tidak bermaksud memojokkan kaum pria atau para suami. Kebetulan saja contoh kejadian didapat dari curhat para istri. Let’s see the brighter side of the writing 🙂

Istri             : bisa tolong pindahin meja ini, hun ?

Suami         : tar

Istri             : kalau pakaian sudah kotor dan mau dicuci bisa nggak ditaruh di ember cucian, jangan digantung aja di kamar

Suami         : O…iya…lupa…maaf…taruhin dunk say

Istri             : Baju ini masih mau dipakai lagi atau dicuci ? Kok ditaruh di lantai ?

Suami         : Mau dipakai lagi (posisi tidak berubah, masih manteng depan laptop)

Istri             : katanya mau ke bengkel ? kok masih internetan ajah

Suami         : tar

Istri             : kalau selesai baca Koran bisa ga dilipat trus ditaruh yang rapi, jangan berserakan di lantai

Suami         : ya maaf….lipatin dunk (wajah tidak berpaling dari monitor laptop)

Sepuluh kali diingatkan, dan sepuluh kali pula kejadian diatas berulang. Mungkin kejadian-kejadian di atas sering dianggap hal sepele, namun jika dibiarkan akan menjadi pemicu masalah dalam hubungan suami istri. Tak jarang alasan yang disampaikan adalah “Aku ya memang begini sejak dulu” atau “Lupa…” atau “Merubah kebiasaan kan ga bisa sekejap” atau yang lebih parah lagi “Beresin aja bisa kan, ga usah ngomel-ngomel” (padahal sang istri sudah mengingatkan dari nada paling halus sampai nada 10 oktaf saking seringnya).

Apakah semua hal diatas adalah incurable bad habits (kebiasaan buruk yg tidak tersembuhkan) atau memang si empunya being ignorant (tidak peduli) dengan kebiasaannya. Saya selalu percaya bahwa perubahan itu mungkin adanya sepanjang ada kemauan, dan dukungan positif dari sekitar akan jadi factor pendukung…ingat ya hanya factor pendukung, karena inti dari sebuah perubahan adalah dari diri sendiri. Saat menikah, maka kita seperti berlayar dengan perahu. Nahkoda dan awaknya harus kompak, jangan sampai yang satu mendayung ke utara, satunya lagi mendayung ke selatan. Adaptasi dan kompromi adalah wajib hukumnya. Satu hal lagi yang penting adalah mutual understanding.

If you do care about your relationship and your partner, do consider their advice or thoughts. Kebiasaan buruk yang terbawa sejak sebelum menikah, pasti bisa diubah walaupun pastinya membutuhkan waktu. Determination, understanding plus love will help you go through the process 🙂 .

Roti Sehat SIDODADI

Pertama kali tiba di Bandung suami saya sudah mengumbar cerita betapa almarhumah mama mertua sangat menggemari roti bebas pengawet yang dijual di Jl. Oto Iskandardinata (Otista) Bandung. Baru sekitar 2 minggu yang lalu saya berkesempatan mencicipinya dan ternyata tidak salah alm.mama menyukainya 🙂 . Selain harganya yang cukup terjangkau, rasanya juga enak. Roti ini tidak terlihat mengembang namun bila digigit ternyata ‘kempes’ seperti roti yang kebanyakan dijual. Teksturnya lembut, tapi padat…jadi sepotong tipis saja sudah cukup mengenyangkan tapi tidak membuat eneg. Satu roti seukuran 2 telapak tangan Indira (hahaha…ukuran yang nggak jelas :mrgreen: ) dibandrol dengan harga Rp 7,000 saja, jauh lebih murah dari roti yang dijual keliling kompleks (untuk ukuran yang sama). Suka ukurang yang lebih kecil? ada juga roti satuan dengan berbagai rasa seperti keju, coklat, sosis, kacang dan pisang coklat dengan harga Rp 2,700. Nahhh…kemarin saya berkesempatan mencicipi roti sosisnya dan merasa bahwa “INI BARU ROTI SOSIS” 😀 . Mengapa demikian? karena sosisnnya bukan hanya asesoris biar terlihat ada sosisnya, sebuah sosis utuh bisa ditemukan dalam roti ini…nyam…nyam…nikmat sekali 🙂 .

Mungkin buat sebagian orang kemasan roti SIDODADI ini terlalu biasa. Warnanya putih dan tidak transparan seperti kebanyakan kemasan roti. O ya, ada satu lagi yang unik dari kemasannya…ada pesan layanan masyarakat yang isinya:

“JADILAH PESERTA KB LESTARI”

“BUANGLAH SAMPAH PADA TEMPATNYA”

Buat para penggemar roti, silahkan mencoba roti SIDODADI yang bisa dibeli di Jl Otista 255, Bandung. Harga dan terjangkau dan bebas bahan pengawet. O ya…cicik pemilik toko ini juga baik dan ramah. Target saya berikutnya ada mencicipi roti 5 rasa yang setiap kali mau beli pasti sudah habis terjual 😀 . Selamat Mencoba! 😛

NB:

Ini bukan postingan promosi, dan review positif ini juga tidak dipengaruhi 2 potong roti sosis yang diberikan cuma-cuma (alias gratis) oleh cicik pemilik toko :mrgreen:

ROTI CUBIT

Kali ini saya posting wisata kuliner murah meriah di Bandung. Lokasinya masih di seputaran BIP…masih satu pelataran dengan Bakso Mantep Belakang BIP di postingan sebelumnya. Ceritanya sehabis makan bakso yang kurang memuaskan, mata saya masih lirak lirik jajanan lain untuk menghilangkan kesal (alasan aja, padahal memang perutnya melar :mrgreen: ). Walaupun hujan sudah mulai turun rintik-rintik, mata yang terlatih untuk mendeteksi penjual makanan ini menjatuhkan padangan pada mamang penjual ROTI CUBIT. Apa sih roti cubit? apa kalau dimakan berasa dicubit-cubit? atau harganya mencubit dompet? 😀 hehehe…tentu saja tidak. Sebenarnya roti cubit ini adalah kue pukis ukuran mini dengan bentuk beraneka ragam. Ada bentuk cecak, buaya, bunga, oval, dsb tergantung cetakannya. Disebut roti cubit karena saat mengangkat roti ini dari cetakan, si mamang penjual menggunakan sejenis tusukan…jadi rotinya seperti dicubit 😀 . Ada yang dijual polos, dan ada yang dijual dengan toping meses. Kata beberapa mbak-mbak yang ngantre beli, mereka sudah langganan roti cubit ama si mamang sejak SD….wahhh si mamang awet muda juga yah. Banyak yang memesan roti cubit dengan atasan setengah matang, katanya enak buat dicolek…ada-ada ajah 😛 . Soal harga jangan khawatir, sebiji roti cubit dihargai Rp 500…sangat terjangkau kan. Tapi tentunya kalau selera dan porsi makan anda seperti saya, maka satu tidaklah cukup :mrgreen: . Lalu berapa, in? tidak perlulah aib makan saya dibuka untuk seluruh Indonesia…cukup suami saja yang tahu…wkwkkww… 😀 . Selamat mencoba sobat!

Roti Cubit Aneka Bentuk

Mamang penjual roti cubit

Ini Promosi…

Hai…hai…selamat hari Senin semuanya, semoga teman-teman semua memulai hari ini dengan senyum dan semangat baru seperti halnya saya 😀 . Walaupun pagi ini diawali dengan kekisruhan karena my hubby bangun kesiangan…tapi mari kita sama-sama berdoa semoga hari ini berjalan lancar dan penuh berkah…amiin (kenapa berasa pidato acara kawinan atau sunatan yah??? :mrgreen: ).

Anyway, kenapa Indira pagi-pagi sudah posting? (kagak pake mandi, tapi sudah sarapan…hahaha…sooo Indira 😀 ). Akhirnya setelah lewat masa-masa morning sickness, rencana yang tertunda untuk membuka usaha sendiri sekaligus sumbangsih sederhana saya buat dunia pendidikan Indonesia bisa terlaksana. Apa sih usahanya? ga mungkin Indira buka kursus masak, karena belum juga hari pertama berlalu…besoknya udah masuk headline Tribun Jabar “Keracunan Masal di Kursus Memasak yang Baru Dibuka Sehari” ..hahaha :mrgreen: . Bimbel Matematika, Fisika atau Kimia? huwaaaaa 😥 .. IMPOSSIBLE ituh, karena yang ada Indira yang diajarin ama murid-muridnya…dan setiap mau ngajar bisa-bisa mules-mules terus 😀 . Sudah jelas tentunya…ini kursus Bahasa Inggris 😛 . Nama yang dipilih adalah KURSUS NGAWANGKONG ENGLISH. Pasti ada yang bertanya-tanya, apa pula artinya “Ngawangkong” dan kenapa harus pake bahasa campuran. Menurut konsultan Bahasa Sunda saya 😀 , ngawangkong bisa diartikan bercakap-cakap, jadi melibatkan 2 orang atau lebih. Umumnya kursus bahasa Inggris memakai merek usaha yang “sangat Inggris” misalnya Easy English, English for You atau Sunshine English Course. Perpaduan 3 bahasa dipakai selain sebagai strategi marketing agar menarik rasa ingin tahu dan perhatian, juga untuk menunjukkan bahwa “Hei, kursus ini ada di Indonesia…Jawa Barat khususnya” dan proudly presents by Indonesian people yang bangga pada bangsa dan bahasanya. Kita memang mempelajari Bahasa Inggris sebagai Bahasa Asing, tapi jangan pernah merendahkan Bahasa dan Budaya kita sendiri…iya ga coy?? 😀

Ada yang bertanya via FB, “Kok berani pasang harga semurah itu?” – maksudnya kenapa isi kepala ini dihargai dengan begitu murah. Buat saya murah dan mahal itu relatif 🙂 saya hanya mencoba membantu diri sendiri dan juga ligkungan sekitar. Bukankah ilmu yang bermanfaat itu tak akan putus pahalanya? dan itu ga bisa dihitung dengan uang. Alhamdulillah saya masih bisa menghasilkan rejeki, dan ilmu saya juga bisa dimanfaatkan buat kepentingan orang banyak.

Pasang iklan ga di koran atau televisi? hehehe….belum sejauh itu sobat. Modalnya cuma brosur sederhana yang didesign dengan MS WORD 😀 … tapi alhamdulillah hari pertama sudah menjaring 10 pendaftar…Wish me luck yah, buat bapak dan ibu yang tinggal di Cibiru dan sekitarnya, mangga didaftarkan putra dan putrinya. Kurus Bahasa Inggris dengan Biaya Terjangkau dan Kualitas Terjaga…diantosan nyakkk 🙂

9 Ends 2 Out

Pernah nonton drama korea yang judulnya 9 Ends 2 Out? Bercerita tentang cewe yang sudah masuk usia 30an tapi masih saja belum punya pacar dan pekerjaan yang mapan. Judul postingan ini diambil dari judul drama itu, karena today Indira officially joins the 30’s club 🙂 . Instead of saying that I’m getting older, I prefer to say I’m getting wiser (ngeles dot com) :mrgreen: .

Birthday wishes? Kali ini daripada banyak meminta, saya ingin lebih banyak mengucap syukur dan terima kasih pada Allah SWT atas karunia luar biasa yang sudah dilimpahkan pada saya (termasuk bisa mengecap hidup sampai usia 30 ini 🙂 ). Being 30 years old, I’m grateful for:

– Having earned double degree in life…master and Mrs degree :mrgreen:

– Having a wonderful husband

– Having a great family (mom, dad, bros and sist)

– Expecting a baby in the 6 months (get ready to be uncle, aunty, grandpa or grandma pals!)

– Ready to open my own business (advert will come soon on this Blog 😀 )

– Having wonderful virtue friends like you all…

– A lot more that I can list here

Jadi permintaan saya sederhana saja…semoga di usia 30 ini diberi kesabaran dan keikhlasan serta keimanan yang bertambah kuat dalam menjalani hidup dan ibadah…amiin 🙂

Bakso Mantep Solo Belakang BIP

Hari itu kami sedang jalan-jalan di seputaran Bandung Indah Plaza. Cuaca mendung yang kurang bersahabat (sepertinya Bandung memang seperti itu setiap hari 😦 ) tidak menyurutkan langkah kami berdua untuk berburu jajanan 😀 . Rencananya my hubby mau mengajak makan bakso yang “katanya” terkenal banget dan tidak pernah sepi dari pengunjung. Tentu saja ekspektasi saya cukup tinggi akan bakso ini, karena ramai dan terkenal pastilah rasanya tidak mengecewakan. Bakso ini mengambil lokasi di belakang BIP. Jangan berharap melihat sebuah resto atau bangunan permanen karena ini bakso di warung tenda. Dari kejauhan saya melihat antrean yang cukup padat, dan begitu sampai memang warung bakso ini ramai sekali…nyaris tidak ada tempat kosong. Pembelinya mulai dari anak kecil, ABG sampai orang tua. Informasi dari suami tercinta harga seporsinya Rp 5,000. Sungguh kesalahan besar saya tidak bertanya lebih lanjut “kapan terakhir makan disana?” karena ternyata seporsinya sekarang dihargai Rp 10,000 :mrgreen: . My hubby punya kecenderungan untuk tidak meng-update informasi harga, karena terbukti kejadian ini tidak menjadi yang pertama dan terakhir.

Setelah menunggu sambil berdiri selama kurang lebih 5 menit, saya akhirnya mendapatkan tempat duduk (ini juga setelah meminta seorang siswi SMA yang merasa perlu untuk ‘mendudukkan’ tas ranselnya yang segede gaban diatas kursi untuk memindahkannya ke bawah kursi). Melihat semua pengunjung makan dengan lahap, saya jujur tidak sabar untuk mencicipi bakso ini. Saat disajikan memang penampilan bakso ini ‘sedikit’ berbeda, karena butir baksonya memiliki ukuran yang mini. Ukurannya mirip cilok (pernah makan cilok kan?). Tambahannya bisa mie kuning, soun dan banyak pengunjung yang mencampurkan bakso mereka dengan kacang telur. Mungkin karena ekspektasi yang terlalu tinggi, saya jadi sedikit kecewa dengan rasanya (ini juga sebelum saya tau kalau harganya ternyata Rp 10,000) yang ternyata biasa saja. Mungkin kelebihannya terletak pada kuah bening yang mirip kuah sop. Mungkin juga karena posisi makan yang kurang nyaman dan begitu ramainya orang yang mengantri di depan saya…jadi acara makan saya kurang berkesan. Untuk skala 1 – 10, saya cuma bisa memberi point 6 untuk bakso ini…karena rasanya yang biasa saja. Anyway, lain lidah lain komentar, yang penasaran silahkan mencicipi sendiri di belakang BIP… 😀 .

Foto diunduh dari: http://primabandung.blogspot.com/

Braga Festival – Apa bedanya dengan Pasar Kaget di Gasibu???

Tanggal 27 – 30 Desember kemarin diadakan BRAGA FESTIVAL yang bertempat di sepanjang Jl. Braga – Bandung. Festival ini diadakan dengan tujuan menghidupkan kembali daerah Braga yang sempat sangat populer di kalangan wisatawan local maupun international pada jamannya.

Menurut iklan dan berita yang saya baca di Koran local, melalui festival ini pengunjung bakal bisa melihat wajah Braga ‘tempo doeloe’ …. Kata iklan dan Koran lohhhh….bukan kata saya :mrgreen: . Masih menurut berita di Koran, festival ini akan diisi dengan berbagai pagelaran kesenian daerah, khususnya kesenian tatar Sunda. Tapi ternyata eh ternyata…kenyataan tidaklah sesuai gembar gembor iklannya. Tak banyak atraksi kesenian yang ditampilkan, bahkan menurut saya festival ini lebih mirip pasar kaget di Gasibu setiap hari Minggu karena sebagian besar stand yang mengisi event ini adalah stand makanan dan pakaian (bahkan ada stand pembalut wanita??? sayang saya lupa mengecek apakah pembalut wanita itu dulu banyak dijual di daerah Braga pada jamannya 😀 ).

Tujuan awal Pemerintah Provinsi Jabar dan Pemerintah Kota Bandung megadakan festival ini adalah untuk menggairahkan kawasan Braga sebagai salah satu tempat wisata. Tapi menurut saya…event ini lebih tepat sebagai sarana untuk menggairahkah selera makan pengunjung. FYI…bahkan saya yang sedang terjangkit morning sickness ini bisa melahap sosis panggang segede gaban yang banyak dijajakan disana. Buat saya untuk katagori makanan camilan, harga sepotong sosis ini ‘agak’ mahal…Rp 10,000 (tapi alhamdulillah kakakku tersayang yang bayarin…hehehehe).

Sebagai masukan buat pelaksanaan festival tahun depan, ada baiknya jika setiap tahun dipilih sebuah tema khusus untuk Braga Festival sehingga stand dan acara yang meramaikan event tahunan ini menjadi lebih jelas dan terarah dan sesuai dengan tujuan awal pelaksanaannya yaitu ‘menghidupkan daerah Braga sebagai tujuan wisata.’ Saya percaya dengan konsep dan persiapan yang lebih baik dan matang Braga Festival bisa menjadi event yang dinantikan sekaligus magnet untuk menarik lebih banyak wisatawan asing untuk berkunjung ke Bandung seperti halnya Pesta Kesenian Bali.

Braga memiliki daya tarik tersendiri dengan masih bertahannya bangunan kuno dengan arsitektur Eropa yang memang sedang popular pada jaman itu (1920 – 1940-an). Arsitektur Eropa itu bisa dilihat pada beberapa bangunan seperti pertokoan Sarinah dan Gedung Merdeka.

So…ini PR tambahan buat penyelenggara Braga Festival tahun depan. Semoga saya benar-benar bisa melihat wajah Braga tempo doeloe saat mengunjungi Braga Festival tahun depan…SEMANGAT!

Beberapa foto yang diambil saat berkunjung ke Braga Festival:

Dan ini foto narsis kami (minus my hubby yang anti-foto) :mrgreen:


Hijrah ka Bandung euyyy…

Hai…hai…hai…semuanya…mau pengumuman kalau Indira is no longer live in Bali. Sesudah honeymoon yang romantis di Jimbaran, akhirnya saya hijrah ke Bandung mengikuti suami. Sedih? Pastinya! Mungkin Bali bukan tempat yang cocok buat yang terbiasa dengan mall berterbaran dimana-mana seperti Jakarta, atau Bandung yang kaya wisata kuliner dan factory outlet, tapi Bali tempat yang sempurna buat saya…dimana lagi bisa kerja, hidup sekaligus berlibur kalau bukan di Bali. It comes in a full package – business and leisure :mrgreen: .

Bali memang panas, buat yang non-muslim kudu hati-hati kalau mau beli makanan, tapi Bali BAnyak Liburrrrr!!!! 😀 , dan kalau weekend (ataupun tak weekend) kita selalu bisa bersantai menikmati sunrise atau sunset di tepi pantai sambil mengunyah jagung bakar hangat 🙂 sempurna kan? Buat saya menghilangkan kepenatan adalah dengan wisata alam, dan Bali surganya wisata alam, mau pantai, danau, sungai, bukit, gunung…you name it lah…dan semua bisa ditempuh dalam waktu yang tak terlalu lama.

Anyway, life must go on, meskipun saat ini Indira harus hijrah ke Bandung…she’ll always be back to Bali 😛 . For now, I’m ready to explore Bandung and will share the stories with you all through this blog…tunggu yah… 😛 So…what’s next? Kopdar di Bandung? Does it sound good to you guys??? 😀